SERBA-SERBI ENGLONESIAN

“Kami fine-fine aja koq”.Ada yang aneh dengan kalimat tersebut? Kalimat tersebut menggunakan dua bahasa sekaligus, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang disebut englonesian. Englonesian adalah singkatan dari “English-Indonesian”, sebuah gaya bahasa yang cukup populer di kalangan penutur asli Bahasa Indonesia saat ini dan menimbulkan pro kontra dalam masyarakat.

Ada pihak yang beranggapan bahwa penggunaan englonesian adalah wajar karena menunjukkan fleksibilitas bahasa sebagai media berkomunikasi. Perpaduan Bahasa Indonesia  dengan bahasa asing dikemukan sebagai sebuah pencitraan diri untuk lebih dipandang lebih tinggi kredebilitasnya, dan mungkin saja dipandang lebih bermatabat. Bagi seorang penutur bahasa Inggris asli seperti Sacha Stevenson, englonesian merupakan sebuah kemudahan dalam berkomunikasi dengan penutur bahasa Indonesia asli, seperti dikutip dalam sebuah tulisannya, “Englonesian. Ini bahasa favorit saya. Mungkin karena saya bule dan kemampuan saya dalam berbahasa Indonesia terbatas. Dan karena saya tinggal di Indonesia sejak masih remaja, Bahasa Inggris saya juga terbatas. Kadang-kadang saya pake Englonesian pas orang Indonesia ngajak saya bicara Bahasa Inggris tapi (berdasarkan logatnya dan pilihan kata-katanya), saya takut dia tidak akan mengerti saya sepenuhnya kalau tidak diterjemahkan beberapa kata ke dalam bahasa Indonesia. Dan kalau orang ngajak saya ngomong pake Bahasa Indonesia, saya tetap pake Englonesian! Karena untuk menyampaikan ide saya (apapun itu), saya kadang butuh kata yang memang tidak biasa atau mungkin tidak ada di Bahasa Indonesia. Indonesia miskin kata memang.” f՜x^

Namun pihak lainnya beranggapan bahwa kebiasaan berbahasa campur-campur memiliki dampak negatif, baik bagi si pengguna maupun kawan bicaranya. Mengapa demikian? Kalimat yang seharusnya diucapkan dengan bahasan Indonesia yang utuh, justru dipadukan dengan bahasa Inggris yang menjadikan kalimat tersebut menjadi “salah”, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Akhirnya, tujuan yang ingin disampaikan oleh pembicara tidak akan bisa dimaknai secara mendalam oleh pendengar yang kemudian mengakibatkan kerugian karena duanya tidak menghasilkan apa-apa selain komunikasi yang sia-sia. Penggunaan bahasa  Indonesia yang sesuai kaidah di masa mendatang akan semakin memprihatinkan jika masyarakat semakin terbuai dengan fenomena englonesian tersebut. Lambat laun, minat dan semangat generasi muda terhadap penguasaan dan penggunaan bahasa Indonesia akan semakin redup.

Suka Dengan Artikel Ini, Bagikan !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •